Senin, 14 November 2016

TEKNOLOGI PENDIDIKAN BAB 3 TENTANG MENGAJAR



Nama                      : SRI HANDAYANI.SAg
NPM                        : 041625001P
KELAS                     : B
Mata Kuliah          : Teknologi Informasi Pembelajaran
Dosen                    : Arizal Eka Putra,M.Pd.I
Tugas                     : RESUME Buku : Teknologi  Pendidikan      BAB  3     MENGAJAR.

MENGAJAR
Metode Mengajar
                Mengajar-belajar adalah kegiatan guru dan murid untuk mencapai tujuan tertentu. Makin jelas
Tujuan makin jelas bahan dan metode penyampaiannya. Namun kemampuan suatu metode baru nyata
dari hasil penilaian. Maka dalam proses mengajar-belajar  unsur  tujuan ,bahan,metode,dan penilaian merupakan suatu kebulatan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Mengajar tanpa penilaian adalah pincang.
                Selain itu proses mengajar-belajar  dipengaruhi oleh berbagai factor lainnya,antara lain faktor
guru yang memegang peranan mengajar yang sangat penting.
                Metode mengajar bergantung pada tujuan dan bahan yang harus disampaikan. Pada umumnya
macam-macam metode digunakan secara campur-aduk  untuk menyampaikan bahan pelajaran tertentu.
                Pada umumnya guru – guru mengakui kebaikan metode penemuan,metode of discovery, atau
Inquiry approach,walaupun belum didukung kebaikannya oleh bukti-bukti ilmiah.
Metode ilmiah atau metode penemuan sendiri masih banyak mengandung hal-hal yang belum jelas.
                Suatu factor yang harus di beri perhatian dalam Teknologi  Pendidikan adalah perbedaan indi-
vidual.Berbagai cara dapat dilakukan agar anak dapat belajar sesuai dengan inteligensi,minat,kecepatan,
dan tujuan masin-masing.
                Benjamin S.Bloom yakni bahwa tiap anak dapat menguasai bahan pelajaran hingga tingkat ter –
tentu dengan metode yang  serasi  dan dalam waktu yang diperlukan oleh anak  (mastery learning ).
                Dalam pelajaran yang perlu dicapai bukan hanya hasil atau produk belajar,akan tetapi  juga
proses  belajar.Menguasai  proses belajar memungkinkan orang belajar sepanjang umur.
                Dalam proses belajar menurut  B.F.  Skinner murid dibimbing secara langkah demi langkah sam-
pai  tercapai tujuan. Setiap langkah yang berhasil,yaitu respons yang tepat atas stimulus tertentu, dibe-
ri reinforcement atau penguatan.
                Analisis tujuan dan urutan langkah memegang peranan yang penting dalam proses belajar me –
nurut Skinner,Crowder,dan lain-lain.
                Dalam proses belajar menurut Thomas F.Gilbert proses belajar justru dimulai  dengan langkah
Terakhir.
                Gilbertmembedakan “acquirement”dan “accomplishment “ dan menggunakan prinsip BT=P-ST
Dalam prose belajar.
                Robert M.Gagne mengemukakan adanya macam-macam jenis belajar yakn(Ci 1).Specific responding.(2). Chaining ( a.Motor chaining:b.Verbal chaining (3)Multiple discrimination (4)Classifying,
(5)Rule using,(6)Problem solving.
                Tiap jenis belajar memerlukan kondisi belajar tertentu. Urutan langkah-langkah memegang peranan penting dalam belajar.Namun urutan mana yang  tersendiri.sebaiknya merupakan masalah



Rabu, 09 November 2016

KISAH PERJALANAN NABI MUHAMMAD SAW


KISAH PERJALANAN ISRA MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW
A.  Pengertian / Definisi Isra dan Mi’raj
Isra Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.
            Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.
Peristiwa Isra Mi’raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.
            Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.
B.       Sejarah / Kisah Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
            Perjalanan dimulai Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril. Jibril berkata, “turunlah dan kerjakan shalat”.
Rasulullahpun turun. Jibril berkata, “dimanakah engkau sekarang ?”“tidak tahu”, kata Rasul.
“Engkau berada di Madinah, disanalah engkau akan berhijrah “, kata Jibril.
Perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa (Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir, kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi (Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu.
            Jibril menurunkan Rasulullah dan menambatkan kendaraannya. Setelah rasul memasuki masjid ternyata telah menunggu Para nabi dan rasul. Rasul bertanya : “Siapakah mereka ?”
“Saudaramu para Nabi dan Rasul”.
Kemudian Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul melihat tangga yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit. Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit tujuh dan ke Sidratul Muntaha.
 “Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihatJibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 13 – 18).
 Selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah membaca yang artinya : “Segala penghormatan adalah milikAllah, segala Rahmat dan kebaikan“.
Allah berfirman yang artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya“.
Rasul membaca lagi yang artinya: “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh. Rasulullah dan ummatnya menerima perintah ibadah shalat“.
Berfirman Allah SWT : “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan ummatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.
 “Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.
Kemudian Rasul turun ke Sidratul Muntaha.
Jibril berkata : “Allah telah memberikan kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya. Berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan tersebut dengan bersyukur kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang menyukai orang-orang yang bersyukur”.
Lalu Rasul memuji Allah atas semua itu.
 Kemudian Jibril berkata : “Berangkatlah ke surga agar aku perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu disana sehingga engkau lebih zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan sampai lah disurga dengan Allah SWT. Tidak ada sebuah tempat pun aku biarkan terlewatkan”. Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa yang mata belum pernah melihat, telingan belum pernah mendengar dan tidak terlintas dihati manusia semuanya masih kosong dan disediakan hanya pemiliknya dari kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Semua itu membuat Rasul kagum untuk seperti inilah mestinya manusia beramal. Kemudian Rasul diperlihatkan neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang subuh.
C.   Mandapat Mandat Shalat 5 waktu
            Agaknya yang lebih wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra’ Mi’raj, tetapi mengapa Isra’ Mi’raj terjadi ? Jawaban pertanyaan ini sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk menerima mandat melaksanakan shalat Lima waktu. Jadi, shalat inilah yang menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.
            Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual hubungannya dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“.
D.  Hikmah Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW
            Perintah sholat dalam perjalanan isra dan mi’raj Nabi Muhammad SAW, kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).

Selasa, 18 November 2014

tata berwudhu dan niatnya.

wudhu adalah syarat sah kita dalam menjalankan sholat
niat dan gambar anak edang berwudhu.                               Gambar anak sedang berwudhu





Doa sesudah berwudhu

 

Tata Cara Berwudu

Berwudu adalah salah satu syarat wajib untuk melaksanakan solat.



Senin, 17 November 2014

HIKMAH PUASA

Hikmah Puasa 6 Hari di bulan Syawal


7
hikmah_puasa_6_hari_di_bulan_syawal1.jpg

Font Size - + T
Dibaca 7243 pengunjung

Selepas sebulan berpuasa di bulan Ramadhan, kini satu lagi ganjaran buat kita di sepanjang bulan Syawal iaitu berpuasa sunat selama 6 hari. Lebih dikenali dengan nama Puasa 6, ianya bagaikan pelengkap kepada amalan berpuasa untuk setahun.

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” – Hadith Riwayat Muslim

Mengapa dikatakan begitu? Ini kerana, orang yang melakukan 1 kebaikan akan mendapat 10 kebaikan yang semisal. Berpuasa selama 1 bulan di bulan Ramadhan bererti puasanya adalah semisal dengan puasa selama 10 bulan. Berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal pula semisal dengan 60 hari (2 bulan) berpuasa. Oleh sebab itulah, mereka yang berpuasa 1 bulan di bulan Ramadhan, kemudian berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal akan mendapat pahala puasa seperti setahun penuh.

“Mahukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai,…” – Hadith Riwayat Tirmidzi
Seperti yang kita tahu, puasa juga adalah perisai seorang muslim dari maksiat semasa dia di dunia, dan merupakan perisainya dari api neraka di akhirat nanti.

 
Para ulama’ menghuraikan rahsia di sebalik ganjaran tersebut dengan mendatangkan dalil bahawa setiap amalan kebaikan manusia akan diganjari sebanyak 10 kali ganda. Puasa 30 hari di bulan Ramadhan diganjari sebanyak 300 hari, manakala puasa 6 hari di bulan Syawal pula diganjari dengan 60 hari. Jika dikira jumlahnya ialah 360 hari, ia hampir menyamai jumlah hari di dalam setahun sebanyak 360 hari. Sesungguhnya Allah swt maha berkuasa untuk memberikan ganjaran sebanyak mana yang dikehendaki-Nya.
 
 

Hikmah Puasa Sunat Enam Syawal.

Sebenarnya puasa 6 hari ini mempunyai beberapa hikmah yang tertentu dari sudut kesihatan manusia itu sendiri. Puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan antaranya menyebabkan sistem percernaan di dalam badan berehat seketika di waktu siang selama sebulan. 
 
Kedatangan bulan Syawal pula menyebabkan seolah-olah ia mengalami kejutan dengan diberikan tugas mencerna pelbagai makanan pada hari raya dan hari-hari selepasnya. Oleh kerana itulah, puasa 6 ini memberikan ruang kembali kepada sistem pencernaan badan untuk berehat dan bertugas secara beransur-ansur untuk kebaikan jasmani manusia itu sendiri.
 
Selain dari itu, sebagai manusia yang menjadi hamba kepada Allah swt, alangkah baiknya seandainya amalan puasa yang diwajibkan ke atas kita di bulan Ramadhan ini kita teruskan juga di bulan Syawal walaupun sekadar enam hari. Ini seolah-olah menunjukkan bahawa kita tidak melakukan ibadat puasa semata-mata kerana ia menjadi satu kewajipan tetapi kerana rasa diri kita sebagai seorang hamba yang benar-benar bersunguh-sungguh untuk taqarrub kepada tuhannya. 
 
Kerana itulah kata ulama’: “Betapa malangnya orang yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan, sedangkan pada bulan lain Allah swt dilupai”.
 

Hukum Puasa Sunat 6 hari di Bulan Syawal.

Hukumnya adalah sunat. Berkata Imam An-Nawawi rh: “Hadis ini jelas menjadi dalil bagi mazhab Imam al-Syafi’e, Imam Ahmad, Daud dan ulama’ yang sependapat dengan mereka bahawa disunatkan berpuasa 6 hari (pada bulan Syawal).
 
Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pula menganggap hukumnya makruh. Sebabnya kerana bimbang orang ramai akan menyangka ia adalah sebahagian dari puasa Ramadhan (yang wajib hukumnya) padahal ia bukanlah dari puasa Ramadhan.” [Syarah Sahih Muslim 8/56]
 

Bilakah Dimulakan Puasa Sunat 6 hari di Bulan Syawal?

Puasa sunat enam Syawal paling awal dimulakan pada 2 Syawal. Ini kerana tarikh 1 Syawal adalah hari Eidil Fitri dan kita dilarang dari berpuasa pada hari tersebut. Abu Hurairah ra berkata:
Maksudnya: “Nabi saw melarang puasa pada hari (Eidil) Fitri dan (Eidil) Adha.” [Sahih Al-Bukhari no: 1991].
 

Bagaimana Melaksanakan Puasa Sunat 6 hari di Bulan Syawal?

Syarat dan adab bagi puasa sunat enam Syawal adalah sama seperti puasa wajib pada bulan Ramadhan.
 
 
Diantara keutamaan shoum enam hari dibulan syawal adalah:

1.  Maka nilai puasanya setahun penuh

2.  Dicintai Allah dan meraih ampunan dosa (QS 3:31)

3.  Meraih syafaat Rasulullah dan bersama beliau karena menghidupkan sunnah   beliau,   "Siapa yang menghidupkan sunnahku maka sungguh ia mencintaiku dan siapa yang mencintaiku bersamaku di Syurga"

4.  Tanda meningkat iman dan taqwanya karena itulah disebut "Syawal" bulan     peningkatan

5.   Menutupi kekurangan selama shoum Romadhon

6.   Diantara tanda ikhlas, gemar dengan amal sunnah, kalau wajib ya kewajiban    tetapi kalau sunnah   adalah kerelaan seorang hamba mengabdi kepada Allah

7.   Cara terbaik memupuk keimanan kepada Allah dan kecintaan kepada NabiNya

8.   Hamba Allah yang beriman cerdas adalah semua sunnah dihidupkan sebagai bekal di akhirat kelak.

Puasa syawal bisa dengan dua cara, boleh berturut-turut enam hari setelah Idul Fitri atau puasa enam hari selama di bulan Syawal.  Bagi muslimat yang berhutang lebih utama bayar puasa dulu.